International Relations Office
Universitas Muhammadiyah Malang
International Relations Office
Universitas Muhammadiyah Malang

Studi di Negeri Karpet

Author : Administrator | Selasa, 17 Juni 2014 09:28 WIB
Agus Arianto

Studi di Negeri Karpet

Oleh: Agus Arianto,  Mahasiswa Bahasa Inggris FKIP-UMM, Alumni Erasmus Mundus 2010

        Tidak pernah terbayangkan sebelumnya dalam fikiran saya, bahwa saya akan memperoleh kesempatan studi di negara asing, lebih tepatnya negara Turki. Sebuah negara yang dihuni oleh 70 juta penduduk, dan  hampir 99% penduduknya beragama Islam. Kesempatan studi di Turki tersebut, bagi saya pribadi merupakan suatu pencapaian yang luar biasa dalam sejarah hidup saya. Saya beserta rombongan tiba di Turki pada tanggal 29 Agustus 2010, tepatnya di bandara internasional Esenboğa di kota Ankara. Sesampainya di Turki, kami tidak langsung tinggal di asrama yang nantinya akan kami tempati, namun kami tinggal bersama mahasiswa İndonesia yang terhimpun dalam Persatuan Pelajar İndonesia.

Setelah perayaan hari raya idul fitri, kami berempat tinggal di daerah Cankaya. Suatu tempat yang sangat strategis, karena berdekatan dengan KBRİ dan kantor presiden Turki. Kami hanya butuh waktu lima menit untuk sampai di KBRİ dan sekitar sepuluh menit di kantor presiden Turki, itupun cukup ditempuh dengan berjalan kaki. Jadi bukan suatu hal yang aneh, jika kami sering berkunjung ke KBRİ dan sangat akrab dengan para diplomat İndonesia di Turki. Terkadang kami juga diundang untuk makan malam atau sekedar minum teh, sambil membicarakan kondisi dan perkembangan İndonesia. Ya hitung-hitung untuk mengobati rasa rindu terhadap keluarga dan kampung halaman.

Di Turki kami kuliah di Atilim, salah satu kampus yang tidak jauh dari jantung kota Ankara. Saya sendiri di Atilim, belajar Sastra Inggris dan tiga teman lainnya masing-masing mengambil jurusan Hubungan İnternasional, Mekatronik dan Teknik İndustri. Di Turki kuliah dimulai pada pukul 09.30 pagi  dan berakhir pada pukul 18.00 malam. Anehnya lagi, di Turki mahasiswa strata satu tidak perlu membuat skripsi sebagai syarat di dapatkannya gelar kesarjanaan, namun mereka hanya cukup menyelesaikan mata kuliah yang disajikan dan membuat semacam ringkasan perkuliahan. Selama mengikuti perkuliahan di Universitas Atilim, kami diwajibkan untuk mengambil mata kuliah bahasa Turki, dan kebijakan tersebut juga berlaku bagi mahasiswa asing yang mengikuti program Erasmus Mundus.

Setidaknya terdapat dua orang dari Mongol dan satu orang berkewarganegaran Jerman yang mengikuti program yang sama dengan kami. Kalau saya boleh menyebutkan nama mereka adalah Mariane Koch, İdharma Myagmar dan Oyun Batur. Saya fikir mereka tidak menghadapi masalah yang berarti untuk beradaptasi dengan makanan, budaya dan musim di Turki. Dikarenakan Mongol dan Jerman memiliki banyak persamaan dengan Turki, baik itu makanan, budaya dan musim. Namun, bagi kami yang berasal dari İndonesia harus berjuang keras untuk beradaptasi dengan semua hal yang berkaitan dengan Turki. Tapi Alhamdulilah, lama-kelaman kami berempat sanggup beradaptasi dengan cukup baik, mulai dari makanan yang sangat asam hingga cuaca musim dingin yang ekstrem.

 

           Saya sangat bersyukur bisa bersosialisasi dan bersentuhan secara langsung dengan masyarakat dan budaya Turki. Sungguh suatu kesempatan yang langka dan tidak semua orang bisa mendapatkannya. Saya sendiri merasa mengalami suatu  perubahan baik dari segi cara berfikir ataupun dalam menyikapi suatu perbedaan. Mungkin hal tersebut merupakan salah satu indikator keberhasilan program tersebut. Saya sangat berharap program ini akan terus berlanjut, sehingga mampu memberikan manfaat bagi mahasiswa baik yang berasal dari Asia maupun Eropa. (Agus/iro)


Tem

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image