International Relations Office
Universitas Muhammadiyah Malang
International Relations Office
Universitas Muhammadiyah Malang

Pelajaran Hidup Erasmus Mundus

Author : Administrator | Kamis, 19 Juni 2014 11:33 WIB
 

Pelajaran Hidup Erasmus Mundus

Oleh: Muhammad Abdul Mannan

Mahasiswa Hubungan International FISIP-UMM

Alumni Erasmus Mundus 2010

 

Suatu kehormatan bisa menuliskan setitik pengalaman selama menempuh beasiswa Erasmus Mundus di Eropa. Saya akan mengawali tulisan ini dengan pengalaman sebelum berangkat ke Eropa, karena pengalaman yang satu ini membekas sangat dalam, bahkan hingga hari ini. Bagi saya, proses mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus ini sangat berliku, karena saya bahkan tidak lolos cadangan pada seleksi gelombang I! Tetapi pelajaran pertama yang saya petik adalah kegagalan bisa menimpa siapa saja, dan yang terbaik adalah mereka yang menyikapi kegagalan dengan arif. Saya mengecek berkas pendaftaran untuk memastikan faktor apa yang berkontribusi pada kegagalan sebelumnya, kemudian menerimanya dengan legowo.

Tidak lama berselang, ada pengumuman seleksi gelombang II. Saya ketar-ketir, karena saat itu sedang berada di negeri jiran sehingga tidak sempat mengurus berkas-berkas baru. Sahabat karib yang saya titipi pengurusan berkas baru pun batal mendaftar kembali. Asal tahu saja, kami berdua mendaftar bersama pada gelombang I dengan keyakinan tinggi, namun sama-sama tidak lolos. Akhirnya dengan mengucap basmalah dan keikhlasan tingkat tinggi (saya benar-benar tidak berharap banyak kali ini), saya pun mengirim berkas pendaftaran lama pada batas hari terakhir di negeri orang. Dan hasilnya sangat saya syukuri, saya berkesempatan untuk menjadi bagian dari buku alumni Erasmus.

Pelajaran kedua yang bisa dipetik adalah jangan pernah berhenti berusaha hingga titik darah penghabisan, karena usaha kita yang dinilai oleh Allah. Hikmah berikutnya, Saya bisa merasakan campur tangan Allah bermain disana, sehingga saat mengetahui bahwa saya akhirnya lolos ke Universidade do Minho, Portugal. Saya tidak menangis kegirangan, melainkan bersujud penuh tangis syukur.

Berada di Portugal bisa membuat anda terkejut ganda. Mengapa? Karena saat anda berangkat kesana pada bulan Agustus, yang berarti musim panas, maka anda harus membuka mata lebar-lebar untuk memastikan diri bahwa anda sedang berada di Portugal, dan bukan Indonesia. Yang kedua, tingkat pergaulan yang relatif jauh lebih bebas mungkin membuat anda terheran-heran, tapi paling tidak hal itu bisa menyadarkan anda jika sedang tidak berada di Indonesia. Saya sendiri merasakan kombinasi keduanya, yaitu senyum hangat persahabatan dari mayoritas orang Portugis yang saya temui. Oh ya, juga dari teman-teman sesama Indonesia, teman-teman seperjuangan di universitas, teman-teman jamaah Masjid Braga, dan banyak lagi. Ini yang membuat saya serasa berada di rumah.

Saya mengawali kuliah  dengan buruk. Setelah hanya mendaftar mata kuliah 6 ECTS- SKS-nya Eropa (padahal batas minimal yang harus diambil adalah 23,5 ECTS) dan sibuk meyakinkan bahwa ternyata seluruh mata kuliah yang ditawarkan semester itu sudah pernah saya ambil, akhirnya saya terpaksa memutuskan mengambil kelas HI untuk mahasiswa pascasarjana. Pelajaran keempat yang bisa anda petik; jika ada tawaran beasiswa pertukaran pelajar, maka berusahalah untuk memperolehnya pada awal masa kuliah anda, atau anda akan berangkat sebagai mahasiswa tingkat akhir tanpa ada nilai yang bisa dikonversi.

Saya teringat ucapan dosen di HI UMM yang terhitung slenge’an (maaf pak), bahwa tidak masalah bagi beliau jika anda mau masuk kuliah dengan memakai kaos atau sandal jepit, selama anda membawa otak anda. Peringatan substantif ini saya temui disana, bahkan dalam skala yang lebih ekstrem. Saat musim panas, anda bahkan tidak dapat mengenali dosen anda jika berpatokan pada Tri Dharma Perguruan Tinggi! Para mahasiswa pun bebas melenggang keluar-masuk kelas selama kuliah tanpa izin (yang interupsi minta izin bisa jadi public enemy karena mengganggu kuliah). Di dalam agama Islam diajarkan betapa niat itu sangat penting, bahkan tolok ukur dari nilai perbuatan kita bergantung pada niat. Di Portugal, memaksakan diri untuk mengikuti kuliah alias tidak niat kuliah adalah kesalahan, karena mungkin mereka yang mekso masuk kuliah biasanya mengganggu mereka yang bawaan sejak lahirnya adalah belajar. Tidak heran jika para mahasiswa seringkali keluar-masuk hanya untuk membawa masuk segelas kopi kecil (benar-benar kecil, sekecil gelas terkecil yang bisa anda bayangkan) khas Portugal yang nikmatnya mendunia, karena mampu menarik kelopak mata mereka yang terkantuk-kantuk seperti ayam mematuk. Bahkan anda akan di apresiasi bila langsung angkat tas (seperti biasa tanpa izin) dan pulang di tengah-tengah kuliah! Pelajaran kelima disini adalah teguhkan hati sebelum berangkat kuliah, atau anda akan menyadari betapa meringkuk di bawah lapisan rangkap selimut dengan pemanas ruangan menyala full adalah surga dunia di musim dingin.

Beratnya menjalani kuliah tidak hanya dikarenakan hal sepele seperti mengantuk atau letih berjalan 1,5 km dari apartemen dengan terpincang-pincang (ada sesuatu yang tumbuh di telapak kaki, sehingga saya bercita-cita dapat menaiki taksi Mercy seharga 5 euro ke kampus setiap ketinggalan bis), melainkan juga kelas yang tanpa kompromi senantiasa dikumandangkan dalam bahasa Portugis. Jangan salah paham dulu. Kemampuan berbahasa Inggris para dosen sangatlah mumpuni, bahkan saya sendiri yang hanya mengandalkan bahasa Inggris untuk bertahan hidup sering kelimpungan saat berbicara dengan mereka. Penyebabnya adalah bahasa nasional yang bagi mereka sakral (kurang lebih sama seperti kita) dan anggapan bahwa superioritas mereka tidak kalah dari bangsa Ibu Sri Ratu (yang ini kemungkinan tidak sama). Bersama Linn (Myanmar), Phuc (Vietnam), dan Tomek (Polandia), kami menjadi the Pathetic Four berikutnya (dari serial Andrea Hirata) dengan duduk di kursi paling belakang sambil bertanya-tanya apakah kami ini mahasiswa HI pascasarjana atau sedang belajar membaca gerak bibir. Pelajaran keenam menjadi begini; perlakukan setiap kursus bahasa berbeda dengan pelajaran lainnya (yang penting nilai bagus), karena karmanya adalah anda akan bertanya-tanya mengapa bisa sampai disini jika untuk memahami dosen bicara saja anda tidak becus.

Berbicara mengenai bahasa, maka saya selalu teringat kebiasaan yang aneh; belajar bahasa orang di negeri orang. Dua hal di atas itu tentunya berbeda. Begini, saya dulu belajar bahasa Sasak (dari Lombok) saat kuliah di UMM (Jawa). Saya malah belajar bahasa Jawa di Portugal! Terima kasih kepada penghuni Rua Dr. Egidio yaitu Mas Puji Irama, Rendra dan Dana atas kealpaanku, sehingga saya lebih menguasai bahasa Jawa ketimbang Portugal di sana (Nina kurang berkontribusi, karena dia penganut paham bahasa Indonesia yang baik dan benar). Lantas bagaimana dengan bahasa Portugisku? Jika parameternya adalah dari buta alfabet Portugis (yang beda-beda sedikit dengan alfabet kita) menjadi mampu memperkenalkan nama, asal, dan apakah saya sudah punya pacar atau belum, maka jawabannya adalah perkembangan yang signifikan. Dan perlu anda ketahui, layaknya Indonesia, orang Portugis yang non-akademisi juga banyak yang tidak bisa bahasa Inggris. Oleh karena itu, kami punya senjata andalan disana yaitu “fala Ingles? “ yang berarti kurang lebih “saya gak bisa bahasa Portugis, anda bisa ngomong Inggris gak sih?”. Jika jawabannya iya, maka kami akan mulai menanyakan kebutuhan kami dalam bahasa Inggris dengan terbata-bata. Jika sebaliknya jawabannya adalah tidak bisa, maka seringkali kami tetap memaksa untuk menggunakan bahasa Inggris dengan ekspresi guru SD yang memperkenalkan apple itu sama dengan apel untuk pertama kali, atau menyebut kosakata Portugis dalam struktur kalimat seperti anak balita sambil menggerakkan tangan layaknya pesenam. Pelajaran berikutnya adalah: bahasa universal ternyata bukan bahasa Inggris, melainkan bahasa tubuh.

Kembali ke masalah kuliah. Dengan segenap godaan dan rintangan yang menghadang, bukan berarti kuliah disana tidak menyenangkan. Karena kuliah bermakna luas, maka saya menikmati saat-saat menjadi life observer. Menyaksikan bagaimana dosen yang memiliki senyum menawan di luar kelas, ternyata tega membentak kawanku sampai menangis saat makalahnya buruk. Oh, mereka begitu mempermasalahkan hal yang esensial, bahkan Gayus pun tidak mampu menyuap mereka. Berhubungan baik, memperoleh balasan via email dengan baik, serta berbicara dengan tatapan hangat dan senyum di bibir tidak berarti nilai anda excellent. Tidak heran bila saya merasa telah wisuda summa cum laude dari pascasarjana saat salah satu dosen memuji langsung presentasi kelompokku, karena di lain kesempatan saya sering meragukan kompetensi diri untuk berada di sana.

Pengalaman berikutnya yang mengesankan adalah saat berkunjung ke Madrid, sendirian. saya selalu berangan-angan untuk mengarungi Eropa seorang diri, karena sejak kecil mendengarkan cerita papa yang berkelana di Eropa hanya dengan hitch hike, atau bahasa lainnya mengandalkan jempol buat izin menumpang mobil orang. Maka meskipun Saya kuliah di Malang, jadilah saya bonek (bondo nekat). Dengan hanya membawa kurang lebih 150 euro, Saya berangkat ke Madrid selama 4 hari untuk agenda yang sangat padat: kunjungan ke PPI Spanyol sebagai perwakilan PPI Portugal (kebetulan dipercaya sebagai Kabid Infokom dan Hubungan Internasional), kunjungan ke El Escorial; kastil pertama kerajaan Spanyol (titipan papa), dan jalan-jalan (ambisi pribadi). Saya mungkin gegabah, tapi saya lebih suka menyebut diri nekat. Berbeda dengan teman-teman yang lain, saya memilih untuk tidak memesan hostel sebelum berangkat. Alasannya simpel; Saya ingin mencoba petualangan sebagai backpacker karena Eropa identik dengan itu. Bukan salah saya jika Madrid dengan tingkat kriminalitasnya yang tinggi ternyata bukan kota tujuan backpacker. Atau suhu di luar yang mencapai -3 derajat celcius saat saya menyadari bahwa itu bukan suhu yang nyaman bagi manusia. Atau masjid dan gereja yang ternyata tutup bagi setiap manusia malang seperti saya saat malam Natal! Iya, saya berangkat pada tanggal 24 Desember dan baru menyadari kalau sopir taksi pun liburan malam itu. Jadi mungkin semua itu salah saya, karena tidak memperhitungkan hal-hal detail sebelumnya. Jujur, saya menangis di luar sendirian, karena malam pertam saya di sana begitu dingin dan hampa. Setelah bolak-balik masjid dan gereja tanpa hasil karena terkunci, juga metro/ stasiun kereta bawah tanah yang hangat namun tanpa toilet (membuat anda mempertimbangkan antara etika dan ancaman penyakit kencing batu), akhirnya saya memilih menuju ke kantor polisi. Tepat pada pukul 1 pagi saya baru bisa merebahkan diri di sebuah hostel dekat arena rodeo, setelah mengobrol dengan obralan bahasa tubuh serta menunggu sopir taksi selesai jamuan kalkun panggang. Itupun dengan perasaan cemas; Saya telah menghabiskan setengah dari uang yang dibawa untuk malam pertam saya! Untung pada hari-hari berikutnya saya mendapat tempat menginap di teman PPI Spanyol. So, pelajaran ke delapan adalah: jika Anda adalah orang yang ceroboh, maka sering-seringlah berdoa.  

Saya sangat bahagia bisa berbagi sesuatu dalam tulisan ini. Sejauh manapun Anda melangkah untuk belajar, yakinlah bahwa pelajaran sesungguhnya ada dalam setiap pengalaman hidup. Mereka selalu ada, hidup di dalam sanubari kita, karena kita mengalaminya sendiri. Seperti saya saat baru turun dari Juanda, yang bersin untuk pertama kali setelah 6 bulan, menyadari: kita yang bisa bertahan hidup di Indonesia pasti mampu mengatasi tantangan di negeri orang! (Mannan/iro)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image