International Relations Office
Universitas Muhammadiyah Malang
International Relations Office
Universitas Muhammadiyah Malang

La Cucina, Bridging the Gap Sesungguhnya

Author : Administrator | Rabu, 18 Juni 2014 08:27 WIB
Berpose di Venice, Italia

La Cucina, Bridging the Gap Sesungguhnya

Oleh: Atik Khikmiyati

Mahasiswa Pasca Sarjana MKPP-UMM

Alumni Erasmus Mundus 2010

            Bridging the Gap, begitu bermakna nama program ini di samping nama besar beasiswa yang memayunginya yakni Erasmus Mundus. Semakna dengan Erasmus, tokoh humanis asal Belanda yang namanya diabadikan sebagai nama beasiswa ini memang dikenal sebagai “petualang” dan memiliki banyak sahabat dari berbagai negara. Maka, bagi para pengikutnya, para pendiri foundation ini, hasil akhir pekerjaan mulia membuka kran kekayaan orang-orang Eropa untuk beasiswa bagi ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru dunia tak lain adalah “mendekatkan” gap yang begitu jauh antara dua dunia yang berbeda. Dunia “west” milik mereka dan dunia “east” milik kita melalui sebuah jembatan (bridge). Kesan itulah yang begitu kuat masuk dalam benak saya setelah melalui berbagai pengalaman paling berarti sepanjang hidup saya selama lebih dari enam bulan belajar dan berpetualang di Eropa.

Bridging the Gap benar-benar menjadi jembatan bagi kami semua penerima beasiswa program kerja sama Universitas Muhammadiyah Malang dengan Uni Eropa ini. Kami mengenal, belajar secara langsung, dan mencoba membangun kesadaran yang tak ternilai harganya. Sebuah kesadaran bahwa ada gap yang begitu jauh antara dunia kita (east) dengan dunia barat. Pakar-pakar ilmu sosial telah membahas bagaimana proses gap ini terbangun dan tentang adanya kekuatan tersembunyi yang menjadikan dunia terbelah menjadi dua seperti itu. Tetapi, bagi saya, bagaimana saya belajar memasukkan diri saya menjadi lebih memahami gap tersebut, mengambil hal-hal yang bermanfaat di dunia sana, selanjutnya mengubah atau minimal memulai melakukan perubahan dari hal-hal kecil yang terdekat dengan bidang saya adalah hal yang lebih utama. Ujungnya adalah menjadikan dunia kita menjadi lebih baik.

Proses selama enam bulan memang tidak cukup, tapi bagi saya, itu sangat berarti untuk melejitkan optimisme dalam diri saya, berani melihat harapan perubahan untuk negeri saya. Hal yang menarik lainnya adalah bukan hanya aktivitas akademik yang memberikan saya pelajaran tentang ini. Justru dari aktivitas sosial dan berkumpul dengan komunitas Internasional di sana lah saya belajar sedikit demi sedikit mendekatkan gap tersebut. Dan, bagi saya tempat yang paling strategis yang mengontakkan kami dengan beragam budaya dari berbagai belahan dunia lainnya itu bukanlah kampus, tetapi la cucina

La cucina yang dalam bahasa Indonesia berarti dapur merupakan tempat paling strategis bagi kami, khususnya mahasiswa Erasmus Mundus Bridging the Gap yang belajar di Trento, Italia. Mahasiswa yang belajar di University of Trento dari luar Italia pada umumnya memang memilih residen mahasiswa yang telah disediakan universitas. Residen ini memiliki fasilitas lengkap dan mewah, salah satunya dapur yang begitu nyaman. Selain memang menjadi bagian dari fasilitas yang disediakan oleh residen universitas, orang Italia memang dikenal gemar memasak dan lebih senang makan bersama keluarga mereka dari pada di restauran apalagi restauran penyedia makanan cepat saji. Ingat film Eat Pray and Lovenya Julia Robert? Alasan utama Liz, tokoh dalam film tersebut memilih Italia dari tiga negara yang akan dikunjunginya adalah karena makanannya. Alasan ini mungkin yang menjadikan aktivitas makan dan pekerjaan di dapur begitu sangat penting dan menjadi salah satu pusat pengukuran tingginya budaya orang Italia.

Residen mahasiswa yang kami tempati bisa menampung tak kurang dari 800 mahasiswa. Setiap mahasiswa mendapat fasilitas satu dapur bersama di setiap bloknya. Kami berenam, mahasiswa UMM asal Indonesia kebetulan menyebar di hampir semua blok. Alasan lebih sulitnya menemukan bahan makanan dan terbatasnya peralatan untuk memasak masakan Indonesia membuat kami berenam bersepakat membagi diri dalam dua kelompok dapur. Berbagi dapur dengan lebih dari 20 teman dari berbagai negara menjadikan dapur adalah tempat pertama yang mempertemukan kami dengan teman-teman baru, mempraktikkan bahasa Italia dan bahasa Inggris kami secara langsung, dan bertukar pengetahuan budaya dari mereka. Begitu banyak cerita menarik, tak jarang juga romantis yang menggambarkan betapa kami telah belajar banyak hal dari dapur.

            Sudah dapat dipastikan pertukaran budaya yang pertama kami pelajari adalah bahasa. Biasanya kami mulai dengan mengenal cara menyapa, cara mengucapkan salam perpisahan, ucapan terima kasih, permintaan maaf dan kata-kata penting lainnya. Awalnya memang sulit, semakin lama akhirnya kami biasa mengucapkan ucapan salam atau salam perpisahan silang antar teman. Misalnya, dua teman kami dari Perancis akhirnya terbiasa mengucapkan kata “da-da!” ketika berpisah dan kita akan menjawab “ salu!” pada mereka. Salah seorang teman kami dari Pakistan kami panggil dengan “mas” dan memanggil saya “mbak”. Proses pertukaran budaya itu tentunya tidak berhenti dari bahasa. Dari dapur juga kami memahami bagaimana budaya bersih, rapi, penekanan rasa masakan, cara menyajikan masakan, dan topik apa yang menarik diobrolkan setelah acara makan malam di masing-masing negara yang mencerminkan tingkat budaya mereka. Alhasil, dari dapur juga kami belajar mendekatkan gap budaya tersebut.

Orang Italia dan Eropa pada umumnya punya standar memasak yang  simpel, praktis dengan tingkat kerapian dan kebersihan tinggi. Salah satu bentuk kepraktisan cara memasak orang Italia menurut saya dapat dilihat dari cara mereka membuat tiramisu. Makanan penutup terlezat yang pernah saya rasakan di Italia itu dibuat dari campuran berbagai bahan ekstrim seperti kocokan telur mentah, coklat, biskuit, dan kopi tanpa melalui proses pemasakan (dikukus atau dipanggang). Mereka hanya butuh mencampurkan seluruh bahan dengan komposisi dan urutan penataan yang tepat kemudian membuat adonan tersebut menjadi beku di almari es. Saat musim dingin, seorang teman bahkan telah mencoba membuat tiramisu dengan hanya menaruh adonan di balkon, dan hasilnya…mmmm!  

Sebaliknya, bayangkan bagaimana cara orang Indonesia dan Asia pada umumnya mempersiapkan masakannya. Betapa repot dan butuh waktu yang lama bagi kami untuk bisa memasak nasi, makanan wajib sebagian besar orang Asia. Saat membuat lauk juga, betapa banyak bumbu yang kami butuhkan dan betapa banyak sampah yang kami keluarkan. Ada sebuah cerita menarik dan lucu ketika suatu saat kelompok Indonesia membuat sambal yang telah lama kami rindukan. Ruangan dapur yang awalnya penuh dengan bule mendadak sunyi karena aroma sambal lengkap dengan trasi yang dibawa teman dari Indonesia. Wis kasus arek-arek iki, ngusir bule pake trasi” komentar salah seorang teman. Teman-teman kami dari Eropa sering berkomentar “Mmmm kalian membutuhkan banyak waktu hanya untuk sebuah makan malam?”.  

Sejauh yang kami ketahui dari pengakuan teman-teman, mahasiswa Indonesia dikenal dengan kepandaian memasak dan keramahannya. Dapur menjadi tidak sepi dan kami jadi sering ngobrol itu salah satu kesan mereka. Sudah banyak dari teman kami yang merencanakan liburan mereka ke Indonesia. Salah satu yang sudah pasti adalah pengajar bahasa Italia kami yang merencanakan berlibur ke Bali bersama keluarganya bulan Agustus ini. Selain itu, pembagian dapur menjadi dua blok ternyata juga efektif. Selain untuk berhemat, di kemudian hari kami menyadari, pembagian ini efektif untuk menjadikan komunitas Indonesia diterima bersama komunitas lain yang telah ada di dapur masing-masing blok. Hasilnya, di akhir program kami menjadi komunitas yang cukup berpengaruh di masing-masing dapur bahkan menjadi tuan rumah bagi acara makan malam perpisahan di antara teman-teman Bridging the Gap Asia. Maka jangan heran jika Prof. Claudio Maglieri, koordinator program ini merencanakan pembuatan buku masakan Bridging the Gap untuk tindak lanjut terdekat program ini. Di samping bahasa, memang makanan dan dapur adalah kontak pertama pertukaran budaya bagi kami semua. La Cucina, memang Bridging the Gap sesungguhnya! (Atik/iro)



Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image