International Relations Office
Universitas Muhammadiyah Malang
International Relations Office
Universitas Muhammadiyah Malang

Ayo Bermimpi

Author : Administrator | Jum'at, 11 Juli 2014 09:00 WIB
 

Ayo Bermimpi

Oleh: Astri Nurani, Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional FISIP-UMM, Alumni Erasmus Mundus 2010

 

All’inizio ,,

Bermimpi, satu kata yang bisa mengantarkan kita pada kenyataan asal mau berusaha dan pasrah. Itulah yang mengantarkan saya ke Eropa dan tinggal di sana selama enam bulan, tepatnya di negara spagetti, Italia.

Dimulai dari rasa ingin tahu dan keinginan untuk selalu mencoba, saya memberanikan diri mendaftar beasiswa Erasmus. Hal pertama yang saya lakukan adalah melengkapi persyaratan – persyaratan yang diminta oleh beasiswa ini, seperti menulis motivation letter pada saat tengah malam, meminta recommendation letter kepada Pak Tony, salah satu dosen saya di jurusan Hubungan Internasional, melengkapi register form secara online di website Erasmus, mengurus transkrip nilai dan beberapa persyaratan lainnya. Saya berusaha sebaik – baiknya dan all out dalam meng apply beasiswa ini. Saya pelajari setiap detail isi website Erasmus agar tidak ada yang tertinggal satupun. Berbekal restu dari kedua orang tua dan tawakkal untuk menerima apapun hasilnya, saya pun menancapkan rasa optimisme yang tinggi dalam hati sanubari untuk mendapatkan salah satu tempat di Eropa.

Saya lupa tepatnya kapan pihak IRO UMM menghubungi saya melalui SMS tentang pengumuman penerimaan beasiswa Erasmus. Yang saya ingat hanya pemberitahuan agar semua pengaju beasiswa berkumpul di Aula Teknik GKB 3. Ketika datang, saya langsung memelototi pengumuman yang tertempel di pintu masuk aula dan mencari nama saya. Dan, alangkah bahagianya ketika saya melihat nama saya terpampang sebagai salah satu awardee beasiswa Erasmus Mundus di pilihan pertama, Universitas Trento, Italia. Saya langsung menelpon mama. Antara percaya dan tidak dengan apa yang didengar, beliau menanyakan lagi pada malam harinya setelah makan malam via telpon. Terlintas dalam pikiran saya untuk tinggal di Trento selama enam bulan, jauh dari orang tua, hari raya tidak bersama keluarga dan persiapan apa saja yang harus saya bawa ke sana. Saya sibuk berpikir sendiri dan bertanya dalam hati: Bukankah ini tugas dan tanggung jawab berat, belajar dengan standar Eropa, musim – musim yang berbeda dengan Indonesia dan terlebih lagi, apapun yang dilakukan di sana merupakan gambaran dan perwakilan orang Indonesia secara keseluruhan? Saya mahasiswa HI, dimana kami belajar tentang Indonesia dan hubungan luar negerinya dan akhirnya mahasiswa HI pun yang akan menjadi wakil – wakil di kedutaan besar Indonesia di luar negeri. Secara formal dan legalitas, duta besar merupakan perwakilan resmi pemerintah Indonesia di luar negeri dan juga perwakilan orang Indonesia, tetapi saya dan teman – teman lain yang diterima beasiswa Erasmus ini juga merupakan duta besar secara informal yang akan bergaul dengan orang – orang di luar sana dan pasti apapun yang kami lakukan akan menggambarkan orang Indonesia secara keseluruhan. Bagi saya, kamilah duta besarnya!

 

Benvenuti a Italia !!

Italia, negeri impian banyak orang, merupakan salah satu negara eksotik di Eropa dengan pemandangan alamnya yang sangat indah. Italia merupakan negara yang berbentuk seperti stivali (sepatu bot) yang terletak di kawasan Mediterania di Eropa Selatan. Siapa yang dapat menolak pesona Italia? Kesempatan belajar di Italia tidak mungkin saya lewatkan dan juga berpetualang ke negara – negara Eropa lainnya.

Diterima di Universitas Trento selama enam bulan sebagai exchange student membuat saya harus mengenal kota Trento itu sendiri. Trento merupakan kota kecil. Itulah impresi pertama kali ketika menginjakkan kaki di sana. Tapi jangan tanya tentang pemandangan alamnya, nuansa pegunungan yang sangat indah, orang Italia menyebutnya Dolomiti, salah satu dari rangkaian pegunungan Alpen. Kami tiba disambut dengan suasana hangat musim panas Italia. Kebetulan di sana sedang mengalami bulan – bulan terakhir musim panas. Trento merupakan ibukota regional Trentino – Alto Adige. Kota yang indah dan sangat cocok untuk belajar.

Kami tiba di sana pada saat bulan puasa ditambah lagi musim panas di Eropa menyebabkan siang hari lebih lama dari pada malam hari. Waktu Imsak sekitar jam 5 pagi tetapi waktu untuk berbuka puasa sekitar jam 8 malam atau lebih. Hampir 15 jam menahan lapar dan haus di Eropa di musim panas dan ini merupakan tantangan sendiri bagi kami. Saat berbuka puasa hari pertama di Eropa, saya pergi ke mensa (semacam kantin) di residenze universita’ untuk mencari makanan berbuka. Saya berbuka hanya dengan air mineral botol dan stick coklat. Hari  - hari berikutnya kami belanja di supermarket di depan residen dan kami membeli beberapa botol besar air mineral. Kami belum tahu sama sekali jika air dari keran di kamar dapat langsung diminum dan kami baru tahu ketika kami bertemu dengan orang – orang Indonesia yang tinggal di Trento.

Selama dua minggu lebih, kami mengurus segala keperluan untuk tinggal di sana. Kami pergi ke International Office Universitas Trento untuk mengurus surat – surat kelengkapan administrasi, pembukaan rekening bank, mata kuliah yang akan diambil dan juga mengurus persyaratan administrasi untuk pembuatan stay permit. Pelayanan bagi mahasiswa Internasional di IRO ini sangatlah baik. Mereka berusaha tersenyum dan ramah kepada kami walaupun kami merasa telah lama merepotkan mereka dengan pertanyaan – pertanyaan kami. Kami pernah mengucapkan terima kasih dan minta maaf kepada mereka dan mereka menjawab bahwa inilah tugas mereka.

 

Studio ,,

Sebelum kami masuk kuliah, selama sebulan kami mendapatkan kursus bahasa Italia gratis sebanyak lima kali pertemuan seminggu selama tiga jam dalam satu bulan. Selama belajar kami tidak mendapat kendala yang sangat sulit karena dalam bahasa Italia, dalam penulisan dan pengucapan hampir sama. Selain itu dalam pengucapan alfabet, Italia tidak jauh berbeda dengan Indonesia.

Ketika semester awal kuliah telah dimulai, peralihan ke musim gugur mulai terasa. Angin kencang dan hujan yang sering turun serta suasana dingin mulai terasa. Saya hanya mengambil tiga mata kuliah dan masing – masing bernilai 8 ECTS (European Credit Transfer System). Mengenai sistem kredit untuk mata kuliah ini saya tidak begitu mengerti tetapi sepengetahuan saya sistem ini berlaku untuk semua perguruan di Eropa dan ini memudahkan orang dari suatu negara di Eropa yang ingin belajar di negara tetangganya atau negara lain di Eropa untuk proses transfer nilai dan perpindahan mahasiswa. Selama proses belajar mengajar, saya juga mengambil kursus bahasa Italia di level selanjutnya karena di level pertama saya telah dinyatakan lulus.

Selama saya kuliah, saya mendapatkan banyak pengetahuan. Bukan hanya dari profesor dan doktor yang telah mengajari saya tetapi juga metode dan bahan – bahan bacaan mereka serta jurnal – jurnal yang dijadikan referensi dan bahan ajar mereka dalam silabus yang telah mereka berikan. Dalam satu semester ada beberapa mata kuliah yang mengadakan seminar dan kuliah tamu beberapa kali yang menghadirkan pembicara dari profesor dan doktor dari universitas terkemuka lainnya di Eropa. Selain itu, bahkan mereka telah mengundang perwakilan WTO pada saat seminar kuliah dan juga mantan Duta Besar Italia untuk Iran pada saat kuliah tamu.

Sistem perkuliahan yang saya alami di Trento dengan di Indonesia agak berbeda. Di Trento saya mengambil 3 mata kuliah dengan 8 ECTS dan 1 mata kuliah dalam seminggu dua kali pertemuan dengan lama waktu 90 menit. Berbeda dengan di Indonesia apabila kita mengambil 1 mata kuliah dengan 3 SKS maka mata kuliah ini ditempuh seminggu sekali dengan lama waktu 3 x 50 menit. Di Trento pada awal pertemuan kami diberikan silabus tentang mata kuliah yang kita ambil. Dalam silabus kami mendapat garis besar pembahasan dalam mata kuliah tersebut dan rincian tema dalam tiap pertemuan. Selain referensi buku dan jurnal yang digunakan dalam mata kuliah tersebut, dalam silabus tercantum juga metode pengajaran seperti frontal – lecture, diskusi, presentasi paper. Kami diharuskan untuk membaca bahan bacaan yang telah dicantumkan dalam silabus sebelum pertemuan kelas berikutnya. Sistem penilaian masing – masing pengajar pun berbeda dan ini dapat kita temukan dalam silabus yang mereka berikan. Sistem presensi bukanlah merupakan hal yang mendasari semua penilaian. Ada dua sistem penilaian yaitu bagi mahasiswa yang aktif mengikuti pertemuan dengan persyaratan menghadiri 75% dari seluruh pertemuan dan mahasiswa yang tidak menghadiri kelas. Sistem penilaian ini didasarkan pada sistem ujian yang akan dijalani dan bagi mahasiswa yang menghadiri kelas dan tidak menghadiri kelas memiliki sistem ujian yang berbeda. Sebagai contoh apabila mahasiswa yang menghadiri kelas melakukan ujian tertulis dan juga harus mengumpulkan esai yang terdiri dari 2000 – 5000 kata pada saat ujian, maka bagi mahasiswa yang tidak menghadiri kelas selain melakukan ujian tertulis dan mengumpulkan esai, juga melakukan oral exam (ujian lisan). Di dalam silabus ini poin – poin penilaian dari setiap paper yang dikerjakan selama satu semester, esai yang dikumpulkan pada saat ujian, partisipasi aktif dalam diskusi dan juga ujian baik ujian tertulis maupun ujian lisan memiliki perhitungannya sendiri setiap mata kuliah dan juga pengajarnya.

Pada saat saya berkunjung ke perpustakaan, boleh dibilang termasuk perpustakaan yang lebih kecil dibandingkan perpustakaan UMM. Tapi ada kesan tersendiri bagiku ketika masuk dalam perpustakaan di Universitas Trento. Semua jurnal yang terdapat dalam perpustakaan sangat update. Semua jurnal diperbaharui tiap tahun dan ketika saya mencari topik yang ingin saya cari, semua jurnal baru dikeluarkan tahun 2010 oleh universitas – universitas terkemuka di dunia. Di ruang baca perpustakaan ini juga tidak pernah sepi dari mahasiswa yang sedang membaca buku atau mengerjakan tugas. Apabila kita terlambat datang ke perpustakaan, jangan harap kita menemukan tempat duduk kosong di ruang baca perpustakaan. Apabila kita ingin meminjam buku, kita dapat mengecek secara online dari internet apakah buku yang ingin kita pinjam tersedia atau sedang dipinjam. Apabila buku tersebut tersedia, kita dapat menulis judul buku, pengarang, tahun penerbitan, dan nama penerbit di kertas yang telah disediakan oleh pihak perpustakaan dan diserahkan kepada petugas perpustakaan. Apabila buku yang dipinjam telah diambilkan oleh petugas perpustakaan, maka nama kita akan dipanggil dan kita dapat meminjam buku tersebut untuk beberapa waktu. Waktu peminjaman buku pun ada dua yakni peminjaman dalam satu hari dan peminjaman dalam waktu normal, selama 1 bulan. Peminjaman buku di perpustakaan maksimal 10 buku dan perpustakaan buka dari jam 8 pagi sampai dengan jam 11 malam. Layanan perpustakaan yang sangat memuaskan menurut saya. Layanan website perpustakaan pun dapat diakses pada saat kita berada di kamar karena website perpustakaan terintegrasi dengan website universitas. Selain kita dapat mengecek tersedianya buku yang ingin dipinjam melalui website di kamar, melalui website perpustakaan ini juga kita dapat mendownload jurnal – jurnal yang kita perlukan sebagai bahan bacaan selama kuliah.

 

La Vita,,

Selama di Trento, saya merasakan banyak perbedaan. Berkaitan dengan masalah transportasi, saya merasa nyaman sekali untuk naik bus bila ingin bepergian ke mana saja. Bus di kota Trento merupakan satu – satunya alat transportasi umum. Bus ini beroperasi dari sekitar jam 5 pagi sampe dengan jam 11.30 malam. Jalur bus ini pun bermacam – macam dan memiliki daftar waktu kedatangan dan keberangkatan bus secara lengkap tiap bus. Setiap bus turun di setiap pemberhentian bus di jalurnya masing – masing. Untuk para pejalan kaki, tersedia jalur sendiri di trotoar dan begitu pula untuk para pemakai sepeda. Saya merasa nyaman bila ingin berjalan kaki menikmati suasana kota. Berbeda dengan di Indonesia, tidak semua ruas jalan menyediakan trotoar untuk pejalan kaki. Beberapa telah menjadi tempat parkir atau bagian dari jalan raya. Tidak semua jalan di Trento dapat dilalui oleh kendaraan bermotor. Seperti dari Piazza Fiera, nama sebuah alun – alun di kota Trento. Saya biasanya turun dari bus di sini dan kemudian berjalan sampai kampus sekitar 5 – 10 menit bila pergi ke kampus. Sembari berjalan kaki, kita melewati komplek pertokoan dengan desain arsitektur yang sudah lama dibangun dan juga gereja tua di Trento.

Orang Italia selama saya kenal di Trento memiliki kebiasaan teratur, yakni masalah jam makan. Kita sebagai orang Indonesia biasanya makan ketika kita merasa lapar. Jadi kita tidak tergantung kepada schedule, tetapi orang Italia tidak. Pernah suatu kali kita makan malam lebih cepat di dapur dan ketika ada orang Italia lewat, kami mengajaknya makan malam bersama untuk merasakan makanan kita, dia langsung menjawab sambil melihat jam bahwa sekarang bukan waktu makan malam dan dia bilang nanti saja dan terima kasih. Memang dasar orang Indonesia, tetapi bagi saya itu wajar. Pada saat itu musim dingin, suhunya di bawah 5˚C dan seperti kita ketahui bahwa apabila cuaca dingin seperti ini, biasanya orang Indonesia cenderung akan mencari makanan atau minuman untuk menghangatkan badan seperti teh panas, kopi panas, bakso tetapi karena tidak ada bakso di sini maka kita lebih makan makanan yang ada dan juga membuat teh panas.

Lingkungan di Trento dapat dikatakan bersih dan udaranya bersih. Apabila kita ingin membuang sampah, ada aturan – aturan yang harus kita patuhi. Di Trento, pemisahan sampah merupakan hal yang harus dilakukan. Jika kita ingin membuang sampah, kita harus membuang sampah ke tempah sampah yang telah ditentukan sampah jenis apa yang ingin dibuang. Ada sekitar 5 jenis tempah sampah antara lain Organic Waste (Sampah Organik) biasanya ditaruh di dapur dan ditandai dengan kantong karton berwarna coklat yang digunakan untuk membuang sampah sisa makanan, potongan bunga, ampas kopi atau teh, sampah botol yang ditandai dengan tempat sampah berwana kuning khusus untuk membuang sampah botol – botol, sampah kertas sebagai tempat untuk membuang sampah kertas, Light Weight Waste (sampah untuk barang – barang yang ringan) yang ditandai dengan sampah dari kantung plastik besar transparan yang digunakan sebagai tempat untuk membuang sampah botol – botol kemasan air mineral dan Residue Waste yang ditandai dengan tempah sampah berwarna hijau yang digunakan sebagai tempat untuk membuang sampah gelas plastik, piring plastik, kemasan makanan kecil (snack) dan barang – barang lain yang tidak bisa didaur ulang. Peraturan pemisahan pembuangan sampah ini merupakan peraturan daerah untuk kota Trento sendiri karena Trento merupakan daerah otonomi di regional Trentino – Alto Adige dimana pemerintah daerah memiliki wewenang penuh terhadap daerahnya.

            Apabila kita ingin berbelanja di supermarket seperti Coop, Poli, Eurospin, Eurospace, Lidl atau semacamnya yang berada di Trento, sebaiknya kita menyiapkan tas belanja sendiri karena kantung plastik yang digunakan untuk membawa barang belanjaan biasanya dijual dan bukan diberi seperti kita berbelanja di Hero, Giant, Hypermart, Carrefour, Ratu atau semacamnya di Indonesia. Tapi karena saya baru belanja pertama kali di supermarket maka wajar saya membeli kantung belanja. Untuk belanja di lain waktu, saya harus membawa kantung belanja ini lagi dan jika saya lupa maka saya harus membeli kantung plastik lagi dan mengeluarkan uang lagi. Menurut saya, kebijakan untuk membawa tas belanja sendiri bersifat ramah lingkungan karena kita tahu bahwa penggunaan tas plastik di dunia telah melampaui jumlah manusia itu sendiri. Selain itu, tas plastik itu sendiri merupakan bahan yang sulit terurai di tanah sehingga tas plastik yang tidak digunakan lagi menjadi tumpukan di tanah dan menyebabkan kesuburan tanah berkurang karena sulit untuk digemburkan.

 

Giro dèlla Euròpa ,,

            Selama di Italia enam bulan, selain belajar, kami juga menyempatkan berkunjung ke kota lain di Italia bahkan ke negara Eropa lainnya. Kota yang pertama kali saya kunjungi adalah Venisia, kota cantik dengan kanal – kanalnya dan terkenal dengan perahunya, yakni gondola. Perjalanan ke Venisia dari Trento memakan waktu sekitar 2 – 3 jam dengan kereta. Kami hanya seharian di sana dan sore harinya kami balik ke Trento. Setelah itu, beberapa minggu setelahnya atau sekitar 1 bulan kemudian kami pergi ke Paris. Kami berada di sana sekitar 2 hari 2 malam. Kami ke Paris dengan pesawat Ryan Air. Ryan Air termasuk pesawat low-fare yang dengan minimal 6€, kita dapat bepergian ke kota lain di Eropa. Selama di Paris, kami berkunjung ke Menara Eiffel pada siang hari dan juga malam harinya. Tidak sulit kita berkeliling kota Paris apabila kita memiliki peta metro (kereta bawah tanah) dan memiliki tiket metro yang berlaku seharian dan juga kita tahu tempat mana yang ingin kita kunjungi. Di Paris, setelah puas berfoto di menara Eiffel pada malam hari, kami berjalan pulang ke hotel tetapi kami tidak menemukan tanda metro di ruas jalan, kami terus berjalan sampai kelelahan. Masih di jembatan di dekat menara Eiffel, kami heran mengapa orang – orang di sekitar kami pada takjub melihat menara Eiffel, ternyata menara Eiffel pada saat itu berkelap – kelip. Memang setiap jam pada malam hari menara Eiffel selalu berkelap – kelip dan ini adalah pemandangan paling indah di Paris pada malam hari, Tapi sayangnya karena baterai kamera telah habis semua, kami tidak dapat memotret moment indah ini dan ini hanya dapat disimpan sebagai memori indah di dalam ingatan. Setelah akhirnya tiba di hotel, saya langsung ke kamar mandi dan ternyata hidung saya mimisan. Memang kami pergi ke Paris pada saat musim dingin di mana suhunya berkisar 2 – 0˚ C atau bahkan minus. Jadi wajar jika kita orang Indonesia biasa dengan iklim tropis biasanya mimisan jika berhadapan cuaca ekstrim dingin seperti di Eropa ini. Bagi saya, ini pertama kali saya mimisan, dan saya mimisan pertama kali di Paris. Menggelikan !!

Selain ke Venisia, saya juga pernah ke Firenze atau kita kenal dengan Florentina. Tempat lahirnya pemikir politik terkenal, Macchiavelli. Setelah itu, ke Pisa, tempat Menara Pisa berada, salah satu keajaiban dunia dan terakhir adalah Roma. Pada saat itu kami memang melakukan perjalanan dengan kereta api ke tiga kota sekaligus agar menghemat biaya. Roma adalah kota dengan arsitektur lama tapi terkesan mewah. Di sinilah kota yang menjadi saksi berjayanya Imperium Romawi. Saya melihat Colosseum, tempat dulunya para gladiator bertarung dengan binatang buas. Di dekat Colosseum, terletak agak ke atas, ada Piazza Venezia, di depannya ada halaman luas, tempat di mana dulu pendukung fasis Mussolini berkumpul. Tetapi bagi saya ada satu tempat di Roma yang paling berkesan yaitu Fontana di Trevi. Air mancur dengan pahatan patung yang sangat indah melambangkan majunya budayanya kesenian pahat di Roma. Ini ditambah dengan airnya yang sangat jernih dan berwarna biru. Saat itu, saya datang pada saat matahari terbenam dan ini menambah indah suasana tempat ini. Di sini juga ada kepercayaan bahwa siapa yang melempar koin ke dalam kolam air mancur ini dengan membalikkan badan, maka dia akan balik ke Roma. Dalam hati, sejujurnya inilah doa saya, saya ingin balik lagi ke Roma.


            Sangat banyak kenangan dan tempat indah yang telah saya kunjungi. Verona dengan Casa di Giuletta (Rumah Juliet), Innsbruck dengan Museum Swarovski, Munchen (Münich) dengan Allianz Arena, Madrid dengan istana kerajaaan, Palacio Real, Brussels sebagai ibukota Uni Eropa dan terkenal dengan coklat dan croissant, Amsterdam dengan kanal – kanal dan bangunannya yang khas, Eindhoven dengan perusahaan Philips, Milan dengan Piazza Duomo, Berlin dengan sisa Tembok Berlin yang masih berdiri dan terakhir kota favorit saya adalah kota Bologna, kota dimana Universitas tertua di dunia berada dan tempat belanja paling murah bagi saya selama di Eropa. Saya sangat suka Bologna !!

 

Finalmente, ho spero ,,

 

Inilah cerita dan pengalaman saya selama berada di Eropa enam bulan khususnya di Trento, Italia. Bagi saya, ini belum menceritakan secara lengkap dan keseluruhan pengalaman saya tetapi yang saya tulis ini adalah cerita dan pengalaman yang dapat kita ambil manfaatnya. Ada kenangan apapun itu moment maupun memori yang dapat kita simpan selama seumur hidup kita. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan belajar gratis di Eropa dan berpetualang di Benua Biru ini. Terima kasih, Tuhan! Jika saya punya kesempatan lagi untuk pergi ke sana lagi untuk melakukan yang lebih baik dan memperbaiki segalanya, saya akan lakukan itu, asal Kau mengizinkan. Amin. (Astri/iro)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image